Monday, July 6, 2009

Faith!!!


Last week end I just found out that son of my friend is actually having heart problem. He is only 8 months old, my Good Lord. The baby has no ‘arteria pulmonalis’ (if I am not mistaken), which is the blood transportation channel from heart to the lung. The absence of this channel interrupts overall blood circulation in his body, put back his physical and mental growth. Currently, his parents keep seeing doctors to find out the solution… can the heart be fixed? If not, can the baby survive and what are the consequences. I also heard that there might be 3 major operations need to be done if the heart is fixable.

What a curse for a young nice decent couple to learn such horrible thing happens to their first son! Even I, who only met their son once … dropped my tears when I was told about it. I couldn’t imagine how much tears they shed when they learned about the fact. I only know that the most hurtful tears in the world usually come from a mother about her child.

And you know what? My friend…the father of the special child told me that “God really trusts my family by giving him to us.” He… my friend…a tremendous father … is still calm… He comes to the office and still smiles. He works normally. And he still writes his YM status : “Everyday is a gift. Thanks!” My Good Lord!!! And here I am with a week of desperation when I couldn’t answer questions in my exam. And here I am with million of angers when subordinates of mine couldn’t do their jobs as I wish. And here I am with self-pities when I gained some weights – problems that are not even close to the problem he faced. Suddenly I feel ashamed of myself – a person who brings out small unimportant problems just to show that God’s plans on me is imperfect.

Oh, my dear friend… he is right : God considers him and his family to be strong to face the condition. And thanks God that he believes in it. He maybe cry … but he is not complaining.. He is not fighting God ... not even has a thought of blaming Him. He approaches closer to God, begs for His direction and love. What a revelation to me … that I have so much blessings in my life I should give thanks… What a precious lesson for me … that I should rather count on the blessings rather than flaws……

My dearest friend… You are really God’s dearest son. I will keep your son name in my prayers … Wishing that he will become another man who declares the Glory of God in this world. Wishing that he will live long enough to teach the world the meaning of ‘faith’ and ‘live in faith’. Wishing that he will live strong enough to also make his parents happy.

May God give you and your family strength to survive all this and become the winner above it all.

Friday, June 5, 2009

Sudah pantaskah kita untuk geram?


Saat saya mendengar tentang kasus Lapindo yang tak kunjung ada solusinya... membayangkan betapa tersiksanya ibu-ibu, bapak-bapak dan terutama anak-anak yang tinggal di pengungsian...geram rasanya hatiku terhadap pengusaha tidak bertanggung jawab yang merampas hak "hidup layak" masyarakat di sekitar Lapindo itu. Kalau Anda?


Saat saya mendengar tentang kasus penganiayaan tenaga kerja kita di negara tetangga... membayangkan betapa tak berdayanya manusia-manusia yang berjuang mencari nafkah di tempat yang jauh tersebut ... geram rasanya hatiku terhadap para majikan yang merampas hak "hidup tanpa disakiti" wanita-wanita yang sejak subuh melayani rumah tangga mereka. Kalau Anda?


Saya boleh geram... Anda boleh geram... karena kasus-kasus tersebut memang merupakan contoh perampasan hak yang paling mendasar. The thing is... apa yang bisa kita lakukan? Apakah merasa geram saja sudah cukup?


Mungkin ini memang hanya alur berpikir saya...'saya melihat kejadian... kemudian saya berkaca'. Saya memang tidak bisa melakukan apa apa untuk membantu semua korban lumpur lapindo supaya bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan nyaman. Saya juga tidak bisa menampari para majikan kurang ajar di negara tetangga karena memperlakukan pembantunya secara tidak manusiawi. Maka saya hanya bisa berbuat 'memastikan diri untuk tidak melakukan perampasan hak orang lain'.


Mari kita sama sama berkaca:

Apakah saya pernah menyerobot tempat parkir orang lain?

Apakah saya pernah 'lupa' membayar ongkos bis saat lagi ramai-ramainya?

Apakah saya pernah menyerobot antrian taxi saat hendak pulang dari mal?

Apakah saya pernah terlambat membayar gaji 'mbak' di rumah?

Apakah saya tidak mematikan atau men-silent telepon selular kita saat sedang dalam sebuah pertemuan penting supaya suaranya tidak mengganggu konsentrasi orang lain?

Apakah kita sering mencuri waktu kerja untuk hal-hal pribadi?

Apakah listrik di rumah adalah hasil colongan?

Apakah kita mengambil hasil karya orang lain dan mengaku sebagai karya pribadi?


Jika jawabannya adalah 'iya'...mari kita lupakan dulu kegeraman terhadap orang lain yang kita rasa merampas hak sesamanya... karena kita adalah salah satu dari mereka.

Wednesday, May 13, 2009

Wanita-wanita istimewa


Kemarin sore, di atas sebuah metromini, ada seseorang yang nampak seperti seorang wanita, berpakaian merah dan bersepatu merah. Namun, karena saya duduk di belakangnya, saya tak dapat melihat wajahnya. Wanita itu digoda, atau tepatnya disindir-sindir oleh beberapa laki-laki di luar metromini saat metromini tersebut sedang ‘ngetem’. Saya perhatikan lagi wanita yang duduk di depan saya tersebut… dan sepertinya saya tau mengapa mereka menggodanya.

Wanita tersebut – dia adalah seorang waria, atau kerennya disebut transvestite. Sebenarnya di Jakarta, sering sekali saya melihat para transvestite ini, sehingga seharusnya saya sudah tidak ‘tergugah’ untuk memandanginya. Bukan apa apa… kaum transvestite ini seringkali lebih kemayu daripada wanita asli… termasuk dibandingkan saya – dan itu sungguh menarik perhatian.

Sambil berusaha mengalihkan pandangan saya kepada wanita tersebut (saya lebih senang menggunakan kata ‘wanita’ untuk mendeskripsikan mereka), saya mulai merenungkan bagaimana wanita-wanita istimewa tersebut seringkali di-diskreditkan oleh masyarakat umum. Pernah suatu waktu, beberapa bulan yang lalu, saya duduk di samping seorang wanita istimewa di sebuah bus, dan kejadian yang sama terjadi. Wanita itu digoda oleh para preman dan kenek di tempat bus itu ngetem, bahkan hendak disundut rokok oleh salah seorang laki-laki norak tersebut. Kontan saja wanita itu mengamuk dan marah. Untunglah tidak terjadi apa-apa, karena saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diri saya jika wanita dan laki laki itu berkelahi.

Apa salah wanita-wanita tersebut, sehingga mereka mendapat perlakuan kurang ajar dan tidak adil dari masyarakat? Kata para pemuka agama : mereka berdosa karena tidak menerima kodrat sebagai laki-laki. Siapa Anda… Siapa kita untuk mengatakan bahwa mereka berdosa? Memang, perubahan gender yang mereka lakukan seolah-olah menentang keputusan Penciptanya ketika membentuk jiwa mereka di dunia ini. Apa yang mereka lakukan seolah-olah menjadi pemberontakan terhadap kekuasan mutlak yang dimiliki oleh Tuhan.

Tapi, kembali lagi… siapa kita untuk mengatakan bahwa mereka berdosa? Apakah kita Tuhan? Mereka hanya manusia yang diciptakan dengan ‘free will’ dalam mencari dan mewujudkan kebahagiaan mereka. Dan kita.. sebagai sesama makhluk ciptaannya.. bukankah telah diperintahkan untuk mengasihi sesama? Lalu mengapa kita harus mendiskreditkan mereka? Mengapa kita harus menghina mereka?

Mungkin di mata kita, mereka bukan orang yang ‘normal’. Mungkin banyak di antara kita menganggap bahwa mereka aneh... atau freak. Tapi toh, kalau dipikir-pikir, wanita-wanita istimewa ini menyayangi tubuh mereka lebih daripada orang lain. Mereka menghabiskan waktu lebih untuk berdandan menyerupai seorang wanita; mereka berusaha berbicara dengan halus dan lembut ; mereka menggoyangkan pinggul saat berjalan supaya terlihat indah. Mereka berusaha begitu keras untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang wanita – setidaknya lebih keras dibandingkan saya yang wanita biasa namun sering ‘nyablak’ saat bicara … yang sering tidak memperdulikan penampilan …

Jadi, saya sampai pada satu kesimpulan… mereka adalah pejuang. Dan saya bertanya kembali: Siapakah kita untuk merendahkan mereka?

Wednesday, May 6, 2009

Just mumbling

Akhirnya.... masa sibuk itu lewat sudah. Pekerjaan besar di kantor sudah saya tuntaskan... bersamaan dengan break kuliah selama 2 minggu. Dua minggu terakhir hanya saya isi dengan berleha-leha dan menikmati 'me-time'. Cuti saya habiskan dengan hanya di rumah saja :menonton film (DVD) dan melumat habis buku-buku yang sudah saya persiapkan untuk dibaca. Ah, indahnya hidup....

Hal-hal sederhana seperti itu -- tak perlu menghabiskan bensin untuk bepergian ke mana mana ...tak perlu menghabiskan uang banyak untuk membeli tiket pesawat ke luar kota -- hal hal sederhana seperti itu sudah cukup bagi saya. Padahal, dulu ketika saya masih belum menikah dan masih kos, rasanya kaki ini selalu gatal untuk keluar dari tempat kos. Jika belum saatnya gerbang di kunci, rasanya enggan untuk meninggalkan kampus dan tempat kerja.

Ternyata kesempatan yang 'sulit' diperoleh memang membuat saya menjadi lebih menghargai waktu istirahat. Kesibukan selama berbulan-bulan dalam pekerjaan dan kuliah membuat saya tidak memiliki waktu cukup untuk melakukan hal lain selain belajar dan menyiapkan tugas. Betapa break selama 2 minggu ini berharga buat saya... dan betapa ini membuat saya menghargai 'waktu luang' dengan lebih baik...

Sungguh, 2 minggu ini menjadi waktu recharge buat saya... dan saya menantikan kembali waktu tersebut 4 bulan lagi!!!!!!!

Wednesday, April 15, 2009

Terlantar

Blog ku terlantar, lantaran aku sedang memasuki 'peak season' of my job.
Kangen ingin menulis, tetapi pikiran sedang tidak bisa diajak kerjasama buat nulis yang bener.
Jadinya, ya begini... cuma mampir sebentar buat menumpahkan ke-kangen-an sama blog-ku ini.
Semoga minggu ini dan minggu depan semua sudah bisa selesai... dan aku bisa kembali main-main dengan blog-ku ini.......

Monday, March 23, 2009

Sudahkah Anda .........???


Beberapa hari belakangan ini… hm.. saya rasa beberapa minggu belakangan ini, I struggled with this feeling of slapping ‘others’ (others mean more than 1…) due to their incompetence and unwillingness to do whatever they need to do to complete the tasks. Setiap hari yang saya rasakan adalah mangkel dan gondok : Why in the world I should work and deal with those kinds of person? Why can’t I get to choose whoever I want to work with?

Puncaknya adalah kemarin, saat saya akhirnya dengan sengaja mengambil cuti untuk menyelesaikan tugas kuliah yang seharusnya dibuat oleh beberapa anggota kelompok selain saya. Well, they did make it.. but the result was unexpectedly doomed. Dan saya dan anggota kelompok lainnya yakin jika hasil yang dikumpulkan adalah apa yang dibuat itu, nilai saya untuk mata kuliah itu di trimester ini bakalan jeblok. Yang lebih parah, saat saya berkomentar, sang pembuat mengatakan paper itu sudah cukup. Damn.. I had to work my a** off just to clean up other’s mess.

Masalahnya, tugas itu harus dikumpulkan kemarin malam, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk mengambil cuti dan berkutat di depan laptop untuk merombak (well… saya rasa lebih tepat jika dikatakan menyusun kembali dari nol) pekerjaan mereka mulai pukul 6 pagi sampai 5 sore sebelum akhirnya selesai.

Hari ini saya bangun dengan perasaan sangat lelah, dan hampir seperti zombie saya berangkat ke kantor. Dalam perjalanan, saya merenungkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang saya sering ajukan “Why can’t she support me? Why can’t he do a better job to make me happy? Why can’t they work faster, while I know that they have time to check their friend’s status in facebook?”

Dari hasil melamun sepanjang perjalanan itu, saya menyadari bahwa:
Di saat saya berdoa supaya Tuhan membimbing saya untuk berkarya dengan baik hari ini
Di saat saya meminta Tuhan untuk menggandeng saya untuk berjalan bersamaNya
Di saat saya menyerahkan hidup saya kepada Tuhan setiap pagi sebelum saya bekerja;
Di saat saya memohon Tuhan untuk menerangi akal budi saya dalam bekerja,

I FORGET to pray to God to give the same blessings to those who support and work with me. Saya lupa berdoa untuk mereka. Saya lupa bahwa Tuhan seringkali menolong kita lewat orang lain – lewat anggota kelompok saya, lewat tim kerja saya, lewat atasan saya, lewat siapa saja yang Dia pilih untuk menolong saya dalam hidup ini - dan saya tidak pernah mendoakan mereka supaya bekerja dengan baik. What kind of person am I?

Jawaban atas pertanyaan saya itu mencubit saya sekeras-kerasnya, membangunkan saya dari lamunan ; membangunkan saya dari tidur panjang saya. Maka pagi ini setiba di kantor, saya mendoakan orang-orang yang dipilih Tuhan untuk membantu saya dan berharap semoga itu membuat saya menjadi lebih iklas dan tak lagi menggerutu sepanjang waktu.

Dulu aku sering melihat stiker yang ditempel di mobil atau di pojok-pojok dinding kampus : “Sudahkah Anda berdoa hari ini?”. Sekarang saya harus naik tingkat : tanyakan pada saya “Sudahkah Anda berdoa untuk teammates Anda hari ini?”

Sunday, March 15, 2009

Don't take everything for granted

What is the meaning of ‘take it for granted’? Based on www.thefreedictionary.com : to believe that something is true without first thinking about it or making sure that it is true (usually + that).

This attitude applied by some of my colleagues or subordinates has been killing me. They received a report from someone else…..and just took it for granted. No checking, no analytical thinking, no curiosity, no nothing!!! They just took it and assumed that all of it was already OK.

If I told them to explore more… to look for something I thought illogical, they asked someone else and took the answer for granted. Again: no logical testing, no further crosschecking, not bother to look for evidence, NOTHING!!! They just assumed that the answer was already satisfactory.

No wonder if I just take it for granted that they are incapable. And I intend to continue thinking that way until they show me that they just don’t take everything for granted.

Thursday, March 12, 2009

Anak-anak itu


Anak-anak yang membawa ukulele itu bertelanjang kaki
menapaki lantai bis kota atau kopaja
Dari perempatan lampu merah ke perempatan lampu merah lainnya
Sembari bercanda, mereka bernyanyi seadanya...
Bahkan terkadang tak terdengar sebagai sebuah nyanyian...
Berharap ada penumpang yang punya sisa uang kembalian untuk dimasukkan
dalam kantong plastik bekas permen atau amplop kecil putih yang diedarkan

Di lampu merah mereka bertepuk tangan di balik kaca-kaca mobil yang 'dingin'
Berharap ada yang mau menurunkan jendela dan memberikan sedikit uang receh
untuk mereka makan.

Dalam gendongan ibunya, bayi itu menyusu dan terkantuk-kantuk
Sambil dibuai nyanyian sumbang sang ibu yang diiringi bunyi krecekan
serta teriakan kondektur di atas bis kota.
Dilelapkan oleh harapan sang ibu agar ada penumpang yang berbelas kasih
melihat bayi dalam gendongannya.

Anak-anak itu tak seharusnya ada di sana.......
Tak seharusnya ada di perempatan lampu merah
Tak seharusnya bernyanyi di atas bis kota
Tak seharusnya mencari nafkah
Tak seharusnya kelaparan
Tak seharusnya dieksploitasi

Anak-anak itu seharusnya ......
Bukan........
Kita seharusnya mengubah keadaan.....
Saya!!! seharusnya dapat melakukan sesuatu....

Monday, March 2, 2009

Give thanks


Today I am (again) amazed by Your blueprint of my life, God.
Aku bersyukur beberapa puluh tahun yang lalu Kau telah memilihkan keluarga yang sempurna untukku.
Aku bersyukur beberapa tahun yang lalu Kau juga melengkapi hidupku dengan belahan jiwaku.
Aku bersyukur kemarin Kau telah berjalan bersamaku; meski aku tak menyadarinya.
Aku bersyukur hari ini karena nafas yang masih Kau hembuskan dalam jiwaku.
Aku bersyukur menit ini karena masih dapat mengingat Engkau.
Aku ingin bersyukur besok karena rencanaMu yang indah.
Aku ingin bersyukur setahun yang akan datang karena sempurnanya tahun yang telah kujalani.
Aku ingin bersyukur 10 tahun lagi karena kebahagiaan demi kebahagiaan telah Kau hujani dalam hidupku.
Aku ingin bersyukur di akhir ajalku nanti... karena cinta yang kujalani selama hidupku.
Aku ingin bersyukur, Tuhan....tanpa harus memilih mana bagian hidupku yang harus kusyukuri dan mana yang tidak...
tanpa harus memisahkan mana tahun-tahun dalam hidupku yang harus kusyukuri dan mana yang tidak....
Aku ingin bersyukur dalam segala hal yang terjadi dalam hidupku.
Tuhanku...ingatkan aku untuk bersyukur setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detik dari hidupku..

Wednesday, February 18, 2009

Klenik

Foto diambil dari : http://images.hafidztio.multiply.com/


Suka bingung sama hubungan masyarakat Indonesia dan trend perkembangan jaman. Logikanya sih, seharusnya berbanding lurus dan linear....... Tapi kalau diperhatikan, sepertinya hubungan antara pola pikir masyarakat Indonesia dan perkembangan teknologi ternyata berbentuk parabola.

Dulu ketika perkembangan teknologi belum secanggih saat ini (di mana blackberry sudah beredar di mana mana, facebook booming, provider telekomunikasi berkembang biak), sepertinya kepercayaan orang Indonesia terhadap hal hal yang berbau klenik belum terlalu luar biasa. Ya...memang tidak bisa dibilang tidak ada, tetapi masih di taraf normal lah...

Tapi justru di jaman sekarang ini....semakin banyak hal-hal yang bertentangan dengan logika yang berseliweran di televisi dan di kehidupan kita sehari hari. Mulai dari : "Ketik REG spasi PERAMAL-OON , kirim ke 6666, dapatkan informasi mengenai jodoh yang cocok untuk anda".... sampai yang lagi booming sekarang: batu PONARI. Di jaman POCARI SWEAT (maap nyebutin merk) udah banyak dikonsumsi masyarakat, ternyata jutaan orang lebih berminat minum PONARI JINX.Mbok ya kalo sakit itu ke klinik... jangan nyari yang klenik.....

Sebenarnya apa sih yang terjadi???

Tuesday, February 17, 2009

Onet


Ada yang masih inget (atau mungkin masih gandrung) dengan “Onet”? Itu loh… maenan gak mutu yang cuma perlu memasangkan 2 gambar yang sama, tapi lumayan bikin mata juling. Gambarnya diambil dari karakter film animasi “Pikachu”. Tampilannya seperti di samping ini... Nah... tau kan????

Game itu sebenernya booming 3-4 tahun yang lalu, saat saya masih jadi bagian dari ‘orang-orang rese’ yang senengnya meriksain ‘buku’ orang lain. Pokoknya jaman saya masih ngerecokin salah satu klien berinisial “T’, saya dan temen-temen senang sekali ‘mengisi waktu’ dengan bermain “Onet” ini (mengisi waktu?????? Padahal lembur melulu.. ihhihii… lemburnya ternyata main Onet). Onet ini seingat saya juga booming sebelum “Zuma Deluxe” bikin saya ketagihan, sampai-sampai rela tidur jam 2 malam hanya untuk menyelesaikan seluruh level yang ada.

Dalam rangka refreshing setelah berpusing-pusing ria dengan pekerjaan setengah hari tadi, saya iseng-iseng main ‘Onet’. Menyebalkan juga setelah menyadari bahwa kemampuan saya terdegradasi sedemikian hebatnya, sampai-sampai menyelesaikan 1 level pun tidak bisa!!!!!!!!!!!!! Akhirnya saya menyerah dan quit the game.

Di sini saya mendukung sekali ungkapan “Practice makes perfect”. Sekian – mau “latihan” dulu. Hihihi…. (ditabok bos).

Monday, February 9, 2009

Kisah si pemecah batu

Gambar diambil dari : http://www.irfankhairi.com/blog/wp-content/uploads/2008/04/breakstones.gif
Hari Minggu kemarin aku mendengarkan sebuah cerita yang sederhana, tapi mengena. Mungkin ada yang sudah pernah tahu cerita ini. Aku coba tuliskan kembali dengan versi dongeng yang sering ada di majalah Bobo, dan dengan sedikit bumbu penyedap :-p

“Alkisah di sebuah desa hiduplah seorang pemecah batu. Tak tahulah siapa namanya, karena nama pemecah batu itu tidak penting untuk disebutkan. Bapak pemecah batu ini setiap hari bekerja dari pagi hingga petang memecahkan batu di sungai untuk dijual kepada para tukang bangunan.

Suatu hari, bapak pemecah batu ini berpapasan dengan Raja yang sedang melintas di dekat tempat ia bekerja. Raja ini duduk di atas sebuah tandu yang diusung oleh selusin pria tegap yang mungkin mengkonsumsi cikal bakal produk L-men (bumbu penyedapnya sudah mulai terasa blum?) dan dikawal oleh setengah lusin perwira bertameng. Bapak pemecah batu ini hanya bisa menunduk memberi hormat sambil sedikit mengintip rombongan tersebut.

Setelah rombongan raja itu lewat, bapak pemecah batu ini bermimpi jika ia menjadi seorang kaisar (bukan hanya raja). Tentunya ia akan memiliki kuasa yang besar. Maka ia memohon kepada dewa (karena ini hanya dongeng, aku pilih untuk menggunakan dewa saja): “Dewa, aku ingin menjadi seorang kaisar yang berkuasa. Bahkan lebih berkuasa dibandingkan dengan raja tadi.” Dewa yang baik hati itu mengabulkan permintaan si pemecah batu.

Setelah berkuasa beberapa lama, sang kaisar baru ini mulai merasa tidak puas. Ia melangkah keluar dari istana dan memandang ke langit. Terlihatlah matahari yang bersinar dengan garangnya. Sang kaisar ini sekarang ingin menjadi matahari yang mempunyai kuasa menyinari seluruh dunia. Dia ingin menjadi matahari yang tak terkalahkan. Maka kembali ia meminta kepada dewa: “Dewa, menjadi kaisar rupanya tak semegah menjadi matahari. Ubahlah aku menjadi matahari, supaya aku memiliki kuasa atas bumi.” Dewa yang selalu baik hati itu pun kembali mengabulkan permintaan sang kaisar.

Senanglah hati matahari baru itu karena memiliki kuasa atas bumi. Tetapi suatu hari ia merasa jengkel karena sinarnya ditutupi oleh sekelompok awan kelabu. Jelaslah baginya bahwa kuasanya tidak absolut. “Matahari yang hebat pun bisa dikalahkan oleh awan. Dewa, aku ingin menjadi awan saja.” Kembali dewa yang masih berbaik hati itu mengabulkan permohonan si matahari.

Tak lama menjadi awan kelabu, berpencarlah titik titik air dalam awan itu menjadi hujan yang turun ke bumi. Menjadi air yang mengalir di sungai dan menghanyutkan sampah-sampah masih membuat ‘si-mantan-pemecah-batu’ ini senang. “Wah, menjadi air ternyata sangat menyenangkan. Aku bahkan bisa menyeret kayu sebesar ini ke mana aku mengalir. Ternyata menjadi air lebih berkuasa.” Tak lama ia berpikiran seperti itu, aliran air itu menghadapi batu sungai yang besar dan mau tak mau, air itu harus menyingkir dari batu itu. Maka seperti sebelum-sebelumnya, kesallah dia dan meminta kepada dewa untuk menjadi batu, karena batu lebih berkuasa daripada air. Dan jadilah ia batu sungai yang bisa membelah aliran air.

Keesokan harinya, datanglah seorang pemecah batu yang hendak memecahkan batu di sungai tempat ia berada. Melihat pemecah batu, yang mungkin masih saudaranya itu, memecahkan batu-batu besar menjadi batu kecil, maka si mantan pemecah batu itu berkata kepada dewa “Dewa, kenapa dari awal aku tidak dikasih tahu bahwa menjadi pemecah batu itulah yang paling berkuasa di antara semuanya?”

Akhir cerita boleh Anda karang sendiri. Apakah sang dewa mengembalikan lagi wujud si pemecah batu , atau dia tetap menjadi batu sungai, atau dia menjadi batu yang dipecahkan oleh pemecah batu lainnya. Tapi yang menarik buat aku adalah bagaimana kita seringkali berpikiran seperti si pemecah batu itu. Menjadi orang lain tampaknya menjadi lebih menarik dibandingkan menjadi diri kita sendiri. Seringkali kita bermimpi untuk menjalani hidup orang lain, padahal Tuhan telah merancang hidup yang sempurna untuk kita jalani.

Mungkin itu adalah nature manusia : tak pernah puas. Ini pula yang menjadi akar rasa iri hati. Tak masalah sebenarnya jika kita tidak cepat berpuas diri: tetapi jangan pernah tidak puas karena orang lain. Jangan ingin bisa karena ingin mengalahkan orang lain. Belajarlah menjadi bisa karena kita tahu kita akan berguna buat orang lain. Aku percaya dalam kehidupan ini Tuhan telah menciptakan peran setiap orang dengan cermat. Dia telah menciptakan cast yang sangat personal buat masing-masing kita. Baik itu menjadi pemecah batu, raja, kaisar, punggawa kerajaan atau orang yang menceritakan ini kepada saya. Saya juga percaya bahwa keinginan saya untuk membagikan cerita ini juga telah diskenariokan olehNya.

Jadi… yakinlah bahwa hidup yang Anda jalani saat ini… Anda yang sekarang ini…adalah skenario terindah - yang jika Anda jalani tanpa mengeluh dan iri hati – akan membuat si penulis scenario tersenyum pada akhir kisah.

Tuesday, February 3, 2009

Sekolah : dulu, sekarang dan masa depan




Siang kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa rekan kerja di pantry. Beberapa ibu-ibu mengeluhkan betapa beratnya beban anak sekolah sekarang. Tentu saja bukan hanya beban si anak saja… beban orang tua juga semakin berat dengan biaya sekolah yang luarrrrrrr biasa. Uang masuk SD saja bisa semahal uang kuliah S-2 di universitas ternama. Buseet……… apa saja sih yang mereka pelajari di sana sampai-sampai harus semahal itu?

Intinya, ibu-ibu itu bukan mengeluhkan uang sekolah, sih. (Yang mengeluhkan uang sekolah itu saya… yang menjadi terdemotivasi untuk punya anak karena memikirkan biaya sekolah di masa depan yang bakalan lebih gila lagi.) Mereka mengeluhkan sulitnya pelajaran anak-anak SD kelas I sekarang. Jauh sekali dibandingkan dengan saat mereka sekolah dulu. Anak-anak harus ekstra keras untuk catch up dengan teman-temannya. Padahal kemampuan mereka belum tentu sama.

Jika demikian gilanya anak-anak digenjot di sekolah, kenapa mutu pendidikan kita bisa dikatakan lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak di luar negeri sana? Jerman, misalnya. Saya bertanya kepada ibu-ibu tersebut, sebenarnya yang dipelajari di sekolah itu apa saja? Ternyata kurang lebih sama dengan yang dulu pernah saya pelajari. Pelajaran di sekolah (tidak semua sekolah, sih....) didominasi dengan HAFALAN. Hampir semuanya harus dihafal, termasuk yang di bawah ini:

“Jika ada orang yang berkelahi, kita harus memisahkan dan mengasihi mereka.”

Dan jika di ulangan ditanyakan: Apa yang harus dilakukan jika ada orang yang berkelahi? Jawabannya haruslah : Kita harus memisahkan dan mengasihi mereka. Jika si anak menjawab lain daripada itu, berarti dia salah.

Coba baca baik-baik kalimat itu. Kalimat seperti itu harus dihafal mati. Anak kelas I SD harus memisahkan dan mengasihi orang yang berkelahi? Dan tidak boleh ada alternative lain untuk menjawab? Apa itu bukan pembodohan namanya? Apa itu bukan irrasional namanya? – sigh-

Saya mengenang lagi masa sekolah saya. Saya ingat dulu harus setengah mati menghafal pelajaran PMP (sebelum diubah menjadi PPKN), PSPB, Sejarah, IPS, IPA. Semuanya harus dihafal!!! Dan apa gunanya untuk saya ketika dewasa?

Rupanya perkembangan jaman tidak mengubah pola pembelajaran di Negara kita ini. Anak yang pintar dan juara kelas adalah anak yang pintar menghafal. Padahal kalau dipikir-pikir, pekerjaan apa sih yang membutuhkan kemampuan menghafal yang sebegitu hebatnya? Saya pikir hanya dokter dan pengacara saja, bukan? Apakah sekolah hendak mempersiapkan semua muridnya menjadi dokter dan pengacara?

Sekarang saya sedang bersekolah kembali. Berbeda dengan kuliah saya di S1 yang semua ujiannya close-book, di sini kebanyakan ujian dilakukan dengan open book. Dan saya rasa justru di sini, understanding mahasiswa lebih diuji dengan soal-soal berupa analisa kasus. Pendekatan ini jauh lebih berguna dibandingkan dengan ujian hafalan.
Mungkin tidak adil saya membandingkan sekolahnya orang dewasa dengan anak anak SD atau SMP. Tapi sekedar pemikiran : kenapa sekolah tidak berpikir untuk mengubah pola belajar : tidak menghafal, tapi memahami. Tidak sekedar membaca, tetapi bertanya mengenai latar belakang di balik sebuah kisah. Guru tidak sekedar bercerita, tetapi justru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi.

Itu sekedar pemikiran saja. Mudah-mudahan di suatu saat ketika anak masa depan saya sudah harus bersekolah, dia tidak harus menghafal buku setiap hari. Mudah-mudahan di suatu saat ketika anak masa depan saya sudah bersekolah, saya tidak harus mendengar dia menghafalkan kalimat: “Jika ada orang yang berkelahi, kita harus memisahkan dan mengasihi mereka.” Saya berharap dia boleh menjawab seperti ini dalam kertas jawaban ujiannya : “Jika ada orang yang berkelahi, saya akan memberitahukan Bu guru supaya Bu guru membantu memisahkan mereka, karena badan saya terlalu kecil untuk melakukan itu.”

Monday, January 19, 2009

Menjadi matahari, bulan... atau bumi?

image was taken from amonr.wordpress.com/.../04/elearning-tata-surya

"Makanya jadi orang jangan maunya jadi matahari terus!!!".Ungkapan itu pertama saya dengar dari 'bu bos' saya yang sedang ngomel-ngomel ke seseorang (bukan ke saya loh...).

Tanpa ada alasan yang jelas, hari ini kalimat itu terngiang-ngiang di benak saya.Maksud 'bu bos' apa? Bukannya matahari itu sumber cahaya untuk tata surya kita? Bukankah tanpa matahari, tanaman tak dapat berfotosintesa? Yang paling sederhana : bukankah tanpa matahari, jemuran di rumah tidak kering-kering? Terus, kenapa tidak boleh terus menjadi matahari?

Matahari adalah pusat tata surya. Dia dikelilingi oleh planet-planet, termasuk bumi kita ini. Dia dipuja puja sebagai manifestasi dewa oleh suku-suku dan negara kuno di dunia seperti suku Inca dan Mesir kuno. Inilah yang dimaksud oleh 'bu bos' saya dengan "JANGAN SELALU MAU MENJADI MATAHARI"...jangan ingin selalu menjadi pusat perhatian ; poros dari segala lalu lalang orang-orang di sekitar kita

Pertanyaan selanjutnya: Apa salah nya menjadi pusat perhatian? Tentu tak ada salahnya. Itu pula yang dilakukan oleh orang-orang yang selalu muncul dalam infotainment SETIAP HARI nya... entah sedang melakukan apapun, selalu jadi pusat perhatian, bahkan artis sedang ngupil pun sepertinya menjadi pemberitaan heboh. Sah sah saja... itu usahanya untuk menjadi seorang selebritis... walaupun selebritis itu artinya adalah pengisi acara TETAP di infotainment yang lebih sering nongol dibandingkan dengan pembawa acaranya sendiri.

Yang menjadi masalah adalah : apakah kita menjadi matahari yang membawa kegunaan atau malah mudarat untuk orang lain? Apakah kita menjadi matahari yang membantu proses fotosintesis, atau menjadi matahari yang membawa bencana kekeringan di planet bumi? Apakah kita menjadi matahari yang mengeringkan jemuran atau menjadi matahari yang memicu kanker kulit/melanoma? Apakah kita menjadi matahari yang menghangatkan, atau menjadi matahari yang membakar?

Saya pribadi lebih memilih menjadi bulan, yang memantulkan sinar matahari ke bumi. Saya ingin menjadi bulan yang mengelilingi bumi dan tidak menjadi pusat perhatian. Saya ingin menjadi bulan , yang meskipun malu malu dan pucat... membantu memberi sedikit cahaya dalam kegelapan bumi. Saya ingin menjadi bulan yang selalu tampak berbeda setiap harinya... bulan sabit pada hari pertama tiap bulan dan bertransformasi menjadi purnama pada hari kelimabelas. Dengan menjadi bulan.. saya ingin melayani dengan rendah hati.

Bagaimana dengan Anda??

Tuesday, January 6, 2009

Memberi dari hati


Kemarin malam saya kembali dihadapkan dengan realitas hidup metropolitan yang kejam – bukan realitas hidup saya, tetapi realitas hidup seorang laki-laki yang sebenarnya tak saya kenal.

Semalam sembari menunggu suami pulang, saya memutuskan untuk window shopping sebentar di Plasa Senayan. Sebenarnya mal sejenis ini (Plasa Senayan, Senayan City, Grand Indonesia, Plasa Indonesia dan EX) bukan favorit saya untuk berjalan jalan. Seringkali saya berada dalam situasi sedang membelai belai lengan selembar pakaian sambil membalik price tag dan kemudian membelalak dengan cara yang elegan (emang bisa ya? Hehehe) dan membatin dalam hati “Aje gile….. baju begini harganya sama dengan pompa air yang baru kemarin saya beli?”. Begitulah mungkin kalau orang tak berduit seperti saya ini window shopping di tempat yang kurang realistis buat saya – alih alih cuci mata… malah bikin sakit mata.

Anyway… kembali ke peristiwa semalam, saat itu pukul 8 malam, saya berjalan-jalan sebentar di Sogo, niatnya mau melihat-lihat tas, karena tas saya – dan tas yang saya sandang malam itu – sudah robek sana sini. Untung warnanya hitam, jadi agak tersamar. Tetapi rasanya tetap saja aku merasa butut sekali menyandang tas murahan yang tak bermerek itu. Bukan hanya soal tas yang membuat saya akhirnya minder untuk jalan jalan di mal papan atas itu – saya mengenakan sandal jepit (bukan sandal jepit mandi) saat itu. Di kantor memang saya mengenakan sepatu, tetapi demi alasan kepraktisan naik turun bis dan berjalan kaki, saya mengenakan sandal untuk perjalanan.

Dan beginilah kira kira penampilan saya : blazer hitam yang kubeli sejak awal bekerja 7 tahun yang lalu + celana panjang yang digulung ujungnya karena kepanjangan 5cm jika tidak menggunakan sepatu berhak + sandal jepit murah tak bermerek + tas hitam besar yang kulitnya sudah mengelupas di sana sini. Inilah penampilan yang membuat seseorang aman dari desakan penjaja parfum di counter counter kosmetik department store. Penampilan ini pula yang membuat para pramuniaga ogah beramah tamah menanyakan bantuan apa yang dapat ia berikan kepada saya setiap saya mendatangi counter mereka. Penampilan ini juga yang mungkin membuat fashionista yang lalu lalang di mal tersebut dengan menggandeng pacar mereka yang tampan (ada beberapa yang tidak tampan) dan tajir itu mengernyit dan menuduh dengan tatapan mereka “Orang ini seharusnya ditangkap dengan tuduhan fashion crime!!!”

Sadar diri dengan penampilan dan tentu saja uang saya yang takkan mau saya keluarkan untuk membeli sebuah tas baru berharga lebih dari uang makan saya selama sebulan – saya memutuskan untuk duduk saja di tempat duduk yang sudah disediakan dan membaca buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Yah.. setidaknya mungkin orang yang melihat saya beranggapan bahwa saya seorang intelek, sehingga dapat menganulir kejahatan fashion yang saya lakukan. Tak lama saya duduk, sepasang suami isteri duduk tak jauh dari saya. Kemudian seorang laki-laki muda, yang mungkin berusia 18 tahun ikut duduk di samping mereka. Saya tak berniat menguping, tetapi lamat-lamat saya dengar laki laki muda itu bercerita …soal kebayoran dan pasar mayestik, tapi tak saya tangkap inti ceritanya. Karena itu saya beranggapan anak itu adalah kenalan mereka.

Tak lama pasangan suami isteri itu beranjak dari tempat duduk. Saya sedang asyik membaca sehingga tak menyadari bahwa laki-laki muda tadi tak ikut beranjak dan menanyakan pertanyaan ini kepada saya :”Bu, punya pekerjaan?” Saya bergeming… karena tidak sadar bahwa pertanyaan itu ditujukan kepadaku dengan suara yang sangat pelan. Sekali lagi dia bertanya kepada saya “Bu, punya pekerjaan?” Saya bingung… apakah maksud laki-laki itu :”ibu punya pekerjaan?” atau “saya mau minta pekerjaan” ??? Tetapi kebingungan saya tak lama karena kemudian dia melanjutkan: ”Saya di Jakarta dari pagi, Bu. Mau cari kerjaan : ke Kebayoran, ke Pasar Mayestik… tapi aduh (geleng-geleng kepala). Saya dari Bogor, bu”.

Saya hanya mengangguk-angguk dan menerka apa yang kemudian laki-laki ini inginkan dari saya. Dia melanjutkan lagi “Bu, mau ongkosin saya pulang? Saya nyari kerjaan di Jakarta ini bu…MasyaAllah, Bu.. nyari kerjaan di Jakarta……”. Saya terhenyak. Logika saya mewanti-wanti “mungkin ini salah satu modus penipuan saat ini”. Tetapi laki-laki itu kemudian tidak mendesak desak saya untuk memberikan uang kepadanya. Hati saya berbisik untuk menolongnya. Saya bertanya lagi padanya “Kalau pulang mau naik apa?”. Dia menjawab “Kalau sudah lewat jam 6.30 sudah tidak bisa lagi naik kereta. Jadi ya naik bis.”

Pikiran saya langsung berisik. Ada unsur logika yang berkata : anak ini kurang persiapan. Masa dia hanya mempersiapkan uang untuk berangkat, tapi tak ada uang untuk pulang? Ada pertanyaan : kira-kira ongkos bis ke Bogor berapa ya? Tapi akhirnya empati saya menang : saya merogoh rogoh tas saya, mencari-cari uang sambil memikirkan berapa uang yang pantas saya berikan pada dia? Akhirnya saya memutuskan untuk memberikan uang yang saya yakin cukup untuk ongkos pulang dan membeli sedikit makanan sebelum pulang. Laki-laki itu berucap “Alhamdulillah, Bu… Terima kasih”. Saya tak bisa lagi membaca selepas laki-laki itu setengah melompat berangkat.

Betapa tidak skenario 5 menit itu membuat hari saya menjadi berarti. Saya yakin bahwa kejadian itu bukan kebetulan. Saya yakin bahwa alam semesta ini telah mengatur bahwa saya memang akan bertemu dengan laki-laki itu dan memberi kesempatan kepada saya untuk belajar dan lebih bersyukur lagi.

Betapa saya tidak bersyukur punya pekerjaan dan penghasilan – meskipun penghasilan itu tak layak untuk dihamburkan membeli pakaian, tas dan sepatu yang dipajang di mal-mal papan atas itu. Betapa saya tidak bersyukur bahwa saya masih bisa memberi – ketimbang meminta. Seringkali orang mencibir melihat orang meminta minta… tetapi tempatkan dirimu di posisi mereka : Meminta itu mungkin berarti merendahkan harga diri mereka.

Saya berharap laki-laki itu tidak sempat masuk ke sebuah toko sepatu dan melihat price tag yang juga telah membuat saya tercengang --- harga yang bisa menghidupi laki-laki itu dan keluarganya untuk lebih dari satu bulan. Saya berharap dia sampai di Bogor dengan selamat dan masih tetap menemukan semangatnya untuk keluar dari kemiskinan. Saya berharap supaya para pejabat di atas sana tak hanya sibuk memikirkan ke mana uang hasil korupsi mereka harus ditanamkan. Dan saya berharap agar saya masih diberikan kepekaan hati untuk mengulurkan tangan. Saya berharap kita semua…….dapat bangkit dari penyakit kelumpuhan hati yang mungkin selama ini tak pernah kita obati.

Mari kita belajar memberi dari hati.

Monday, January 5, 2009

Mereka punya cinta


Pasangan itu telah menikah dan hidup bersama selama 40 tahun lebih. Aku tak tahu tepatnya empat puluh berapa : yang jelas putri pertama mereka telah berusia 40 tahun. Kedua sepuh itu masing-masing berusia 66 tahun, tetapi si lelaki terlihat lebih tua dan rapuh dibandingkan yang wanita. Namun tak pernah sekalipun mereka tak pergi berdua-dua.

Sang wanita telah sibuk sejak fajar mengintip : mempersiapkan ramuan jus kentang dan apel untuk si lelaki – ramuan yang dipercaya dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal si lelaki yang saat ini hanya mencapai 35% fungsi normal. Setelah itu ia akan pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk memasak. Saat ia kembali, ia akan melayani si lelaki, suaminya, sarapan.

Tak banyak kegiatan yang dapat dilakukan di saat seseorang sudah tua dan pensiun. Mereka ditinggal kerja oleh putra putri mereka. Hanya televisi yang bisa menjadi sumber penghiburan dan alat untuk tetap mempertahankan kewarasan mereka. Tetapi si wanita selalu dapat menemukan apa saja untuk dikerjakan selain duduk duduk di rumah menonton program TV yang menjemukan. Ia berjalan ke rumah salah satu keluarga dekat untuk mengobrol…dia bahkan berani mengendarai mobil yang memang sengaja ditinggalkan oleh anak mereka jika dibutuhkan. Dia mencoba naik feeder busway ke arah Pasar Baru dan menjemput adiknya untuk menginap di rumah. Dari kejauhan, si wanita terlihat seperti anak gadis yang masih sibuk berlari ke sana ke sini tanpa lelah.

Sejak dulu memang wanita itu tak bisa diam. Sejak usia sangat muda dia telah bekerja keras demi melanjutkan sekolah. Sepulang sekolah ia menjual kue buatan ibunya dengan berjalan kaki (omong-omong…dia memiliki 9 saudara kandung). Ketika ia lebih dewasa sedikit, ia belajar menjahit untuk mencari nafkah. Namun di sela sela semua pekerjaan dan kesibukan itu, ia tetap juara di kelasnya.

Lulus SMP, ia berangkat ke Jakarta dengan uang sekedarnya – belajar di sekolah guru yang setingkat dengan SMA saat ini - menempuh berpuluh puluh kilometer setiap harinya dengan berjalan kaki. Cerita ini aku dapatkan ketika ia menunjuk setiap tempat bersejarah baginya.

Selepas sekolah, ia kembali ke kampung halaman untuk mengajar bahasa Mandarin di sebuah sekolah. Di sana dia bertemu dengan lelaki yang kemudian menjadi suaminya. Dan itulah awal cerita mereka.

Si lelaki berasal dari keluarga yang cukup mampu – meski tidak terlalu kaya. Ia adalah putra tertua dari keluarga besar (juga 10 bersaudara) itu. Meskipun orangtuanya terbiasa memanjakannya, dia tetap memiliki pendirian teguh dan rajin berusaha. Satu kualitas utama dari dirinya adalah kejujuran. Lelaki ini juga bersekolah di sekolah guru – bidang utamanya adalah matematika. Selepas sekolah, nasib mempertemukan dia dengan wanita yang akan menjadi teman hidupnya hingga saat ini.

Baru mengajar 1 tahun, G30S-PKI pecah – dan komunisme diberantas. Dipercaya saat itu, komunisme bersumber dari RRC. Sebagai akibatnya, semua yang berbau Cina harus diberantas – terutama sekolah Cina… tempat kedua orang itu mengajar. Hancurlah semua cita-cita dan pengharapan yang pernah ada.

Maka si wanita melanjutkan bakatnya yang sudah ada sejak lama – menjahit. Sementara si lelaki mencoba peruntungan dengan bekerja pada seorang tuan tanah yang memiliki usaha di bidang perkayuan. Lelaki itu keluar masuk hutan – tetapi fisiknya tak menunjang. Ini sebenarnya berkah, karena dengan mundur dari profesi itu, ia sebenarnya sedang menyambut masa depan yang lebih cerah. Lelaki itu jatuh sakit dan tak lain yang kemudian merawatnya adalah si wanita penjahit itu. Setelah pulih, lelaki itu pergi keluar kota – bukan untuk meninggalkan wanita yang telah berjasa baginya – ia belajar menjahit!!! Bayangkan betapa manusia-manusia generasi itu memiliki tekad sekuat baja untuk mencari nafkah.

Setelah punya keahlian, ia kembali bersama dengan wanita itu, menikah dan membuka usaha menjahit bersama. Dimulai dengan perlahan-lahan, sehingga akhirnya mereka dipercaya untuk menjahit seragam untuk pegawai PN Timah yang masih berjaya saat itu. Dimulai dengan berdua kemudian mulai merekrut pegawai tambahan demi memenuhi order.

Tetapi beberapa tahun kemudian usaha jahit menjamur di mana mana. Semua orang tiba-tiba menggandrungi usaha jahit menjahit ini. Saingan pun bermunculan bak jamur di musim hujan. Pasangan suami isteri ini bertatapan dan memutuskan untuk mencari mata pencaharian lain. Bayangkan… di saat buku yang membahas tentang Red Ocean dan Blue Ocean masih jauh berada di dunia lain, mereka telah mengerti konsep tersebut. Mereka memutuskan untuk melompat dari Red Ocean dan memilih hidup baru di Blue Ocean.

Meski tak bermodal ijazah S-1, mereka punya insting bisnis yang sangat tepat dan membuka sebuah toko bangunan kecil di muka rumah. Dan setelah berpuluh tahun – usaha itu tetap menjadi blue ocean. Hanya ada segelintir orang yang membuka toko bangunan di kota itu.

Sekarang sudah puluhan tahun pula mereka menggantungkan hidup dari toko tersebut. Dari toko itu pula mereka menyekolahkan 5 anak mereka – hanya 2 yang berhasil menyelesaikan jenjang perguruan tinggi. Anak terkecil mereka saat ini berusia 20 tahun – hanya dia saja yang belum menikah. Cucu mereka sudah ada 9 dan 1 lagi sedang menunggu waktunya. Sudah saatnya beristirahat. Dan pada saat inilah arti ‘teman hidup’ menjadi sangat mendalam.

Aku tak dapat membayangkan jika lelaki itu tak memiliki wanita kuat itu di sampingnya. Wanita yang selalu siap sedia melayaninya, memberikan bahunya untuk ditumpangkan - begitu pula ketika harus menuruni tangga – sang wanita akan menggandeng lengan si lelaki… bukan karena takut ketinggian…tetapi untuk menghindarkan si lelaki dari tersandung dan jatuh tergelincir. Wanita itu selalu mengurusinya dengan baik di saat dia sakit. Wanita itu pula yang menjadi juru bicara lelaki itu, karena dengan tak melebih-lebihkan…kalimat yang diucapkan lelaki itu dalam setahun benar benar dapat dihitung dengan mudah.

Namun aku tak bisa berkata bahwa lelaki itu lebih diuntungkan dalam perkawinan mereka… Tidak… wanita itu akan kehilangan makna hidupnya jika tak ada lelaki yang harus ia layani. Karena suaminya, ia mengomel dan berkicau sepanjang hari – tetapi itulah yang memberinya energy untuk tetap hidup: Ada seseorang yang membutuhkannya – di saat anak-anaknya telah dewasa dan membentuk keluarga sendiri… apa lagi yang dapat ia lakukan?

Pasangan itu telah lama hidup bersama – mungkin mereka menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar acara gosip yang menampilkan kebiasaan kawin-cerai yang dilakoni para selebriti tanah air ini. Pasangan itu telah menjalani hidup bagai perahu karet dalam arung jeram .. yang terbentur bentur dengan batu dan menghadapi arus deras –namun mereka tetap bersama. Pasangan itu punya cinta – dan aku percaya atas dasar itulah aku lahir ke dunia.