Tuesday, January 6, 2009

Memberi dari hati


Kemarin malam saya kembali dihadapkan dengan realitas hidup metropolitan yang kejam – bukan realitas hidup saya, tetapi realitas hidup seorang laki-laki yang sebenarnya tak saya kenal.

Semalam sembari menunggu suami pulang, saya memutuskan untuk window shopping sebentar di Plasa Senayan. Sebenarnya mal sejenis ini (Plasa Senayan, Senayan City, Grand Indonesia, Plasa Indonesia dan EX) bukan favorit saya untuk berjalan jalan. Seringkali saya berada dalam situasi sedang membelai belai lengan selembar pakaian sambil membalik price tag dan kemudian membelalak dengan cara yang elegan (emang bisa ya? Hehehe) dan membatin dalam hati “Aje gile….. baju begini harganya sama dengan pompa air yang baru kemarin saya beli?”. Begitulah mungkin kalau orang tak berduit seperti saya ini window shopping di tempat yang kurang realistis buat saya – alih alih cuci mata… malah bikin sakit mata.

Anyway… kembali ke peristiwa semalam, saat itu pukul 8 malam, saya berjalan-jalan sebentar di Sogo, niatnya mau melihat-lihat tas, karena tas saya – dan tas yang saya sandang malam itu – sudah robek sana sini. Untung warnanya hitam, jadi agak tersamar. Tetapi rasanya tetap saja aku merasa butut sekali menyandang tas murahan yang tak bermerek itu. Bukan hanya soal tas yang membuat saya akhirnya minder untuk jalan jalan di mal papan atas itu – saya mengenakan sandal jepit (bukan sandal jepit mandi) saat itu. Di kantor memang saya mengenakan sepatu, tetapi demi alasan kepraktisan naik turun bis dan berjalan kaki, saya mengenakan sandal untuk perjalanan.

Dan beginilah kira kira penampilan saya : blazer hitam yang kubeli sejak awal bekerja 7 tahun yang lalu + celana panjang yang digulung ujungnya karena kepanjangan 5cm jika tidak menggunakan sepatu berhak + sandal jepit murah tak bermerek + tas hitam besar yang kulitnya sudah mengelupas di sana sini. Inilah penampilan yang membuat seseorang aman dari desakan penjaja parfum di counter counter kosmetik department store. Penampilan ini pula yang membuat para pramuniaga ogah beramah tamah menanyakan bantuan apa yang dapat ia berikan kepada saya setiap saya mendatangi counter mereka. Penampilan ini juga yang mungkin membuat fashionista yang lalu lalang di mal tersebut dengan menggandeng pacar mereka yang tampan (ada beberapa yang tidak tampan) dan tajir itu mengernyit dan menuduh dengan tatapan mereka “Orang ini seharusnya ditangkap dengan tuduhan fashion crime!!!”

Sadar diri dengan penampilan dan tentu saja uang saya yang takkan mau saya keluarkan untuk membeli sebuah tas baru berharga lebih dari uang makan saya selama sebulan – saya memutuskan untuk duduk saja di tempat duduk yang sudah disediakan dan membaca buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Yah.. setidaknya mungkin orang yang melihat saya beranggapan bahwa saya seorang intelek, sehingga dapat menganulir kejahatan fashion yang saya lakukan. Tak lama saya duduk, sepasang suami isteri duduk tak jauh dari saya. Kemudian seorang laki-laki muda, yang mungkin berusia 18 tahun ikut duduk di samping mereka. Saya tak berniat menguping, tetapi lamat-lamat saya dengar laki laki muda itu bercerita …soal kebayoran dan pasar mayestik, tapi tak saya tangkap inti ceritanya. Karena itu saya beranggapan anak itu adalah kenalan mereka.

Tak lama pasangan suami isteri itu beranjak dari tempat duduk. Saya sedang asyik membaca sehingga tak menyadari bahwa laki-laki muda tadi tak ikut beranjak dan menanyakan pertanyaan ini kepada saya :”Bu, punya pekerjaan?” Saya bergeming… karena tidak sadar bahwa pertanyaan itu ditujukan kepadaku dengan suara yang sangat pelan. Sekali lagi dia bertanya kepada saya “Bu, punya pekerjaan?” Saya bingung… apakah maksud laki-laki itu :”ibu punya pekerjaan?” atau “saya mau minta pekerjaan” ??? Tetapi kebingungan saya tak lama karena kemudian dia melanjutkan: ”Saya di Jakarta dari pagi, Bu. Mau cari kerjaan : ke Kebayoran, ke Pasar Mayestik… tapi aduh (geleng-geleng kepala). Saya dari Bogor, bu”.

Saya hanya mengangguk-angguk dan menerka apa yang kemudian laki-laki ini inginkan dari saya. Dia melanjutkan lagi “Bu, mau ongkosin saya pulang? Saya nyari kerjaan di Jakarta ini bu…MasyaAllah, Bu.. nyari kerjaan di Jakarta……”. Saya terhenyak. Logika saya mewanti-wanti “mungkin ini salah satu modus penipuan saat ini”. Tetapi laki-laki itu kemudian tidak mendesak desak saya untuk memberikan uang kepadanya. Hati saya berbisik untuk menolongnya. Saya bertanya lagi padanya “Kalau pulang mau naik apa?”. Dia menjawab “Kalau sudah lewat jam 6.30 sudah tidak bisa lagi naik kereta. Jadi ya naik bis.”

Pikiran saya langsung berisik. Ada unsur logika yang berkata : anak ini kurang persiapan. Masa dia hanya mempersiapkan uang untuk berangkat, tapi tak ada uang untuk pulang? Ada pertanyaan : kira-kira ongkos bis ke Bogor berapa ya? Tapi akhirnya empati saya menang : saya merogoh rogoh tas saya, mencari-cari uang sambil memikirkan berapa uang yang pantas saya berikan pada dia? Akhirnya saya memutuskan untuk memberikan uang yang saya yakin cukup untuk ongkos pulang dan membeli sedikit makanan sebelum pulang. Laki-laki itu berucap “Alhamdulillah, Bu… Terima kasih”. Saya tak bisa lagi membaca selepas laki-laki itu setengah melompat berangkat.

Betapa tidak skenario 5 menit itu membuat hari saya menjadi berarti. Saya yakin bahwa kejadian itu bukan kebetulan. Saya yakin bahwa alam semesta ini telah mengatur bahwa saya memang akan bertemu dengan laki-laki itu dan memberi kesempatan kepada saya untuk belajar dan lebih bersyukur lagi.

Betapa saya tidak bersyukur punya pekerjaan dan penghasilan – meskipun penghasilan itu tak layak untuk dihamburkan membeli pakaian, tas dan sepatu yang dipajang di mal-mal papan atas itu. Betapa saya tidak bersyukur bahwa saya masih bisa memberi – ketimbang meminta. Seringkali orang mencibir melihat orang meminta minta… tetapi tempatkan dirimu di posisi mereka : Meminta itu mungkin berarti merendahkan harga diri mereka.

Saya berharap laki-laki itu tidak sempat masuk ke sebuah toko sepatu dan melihat price tag yang juga telah membuat saya tercengang --- harga yang bisa menghidupi laki-laki itu dan keluarganya untuk lebih dari satu bulan. Saya berharap dia sampai di Bogor dengan selamat dan masih tetap menemukan semangatnya untuk keluar dari kemiskinan. Saya berharap supaya para pejabat di atas sana tak hanya sibuk memikirkan ke mana uang hasil korupsi mereka harus ditanamkan. Dan saya berharap agar saya masih diberikan kepekaan hati untuk mengulurkan tangan. Saya berharap kita semua…….dapat bangkit dari penyakit kelumpuhan hati yang mungkin selama ini tak pernah kita obati.

Mari kita belajar memberi dari hati.

2 comments:

  1. Emang bener tuh, kadang hidup di dunia yang mendewakan atribut duniawi, sering membuat mata hati kita tertutup. Mungkin disatu sisi, kita punya kelebihan untuk nunjukin "Ini loh gw..gw bisa beli ini,itu...blah...blah..blah..." tapi di sisi lain, di luar sana banyak banyak orang yang gak bisa bikin apa-apa (even cuma buat makan...) karena mereka gak punya duit..!! sah2 juga bersikap "egois" dan gak perduli karena pada akhirnya semua kembali ke hati kecil kita. Kalo kita berdiri di kaki mereka, rasanya seperti apa yaa..??? mudah-mudahan kita gak diberi penyakit kelumpuhan hati..


    miracle @bluecrystalrose.blogspot.com
    January 25, 2009 10:14 PM

    ReplyDelete
  2. Hi Miracle :
    Thanks for the comment. Emang bener kalo penyakit konsumerisme seringkali jadi sumber dari penyakit kelumpuhan hati. Karena itulah, menulis seringkali jadi alat untuk refleksi buat saya. Buat yang tidak suka menulis, rasanya 5 menit refleksi (bukan refleksi kaki loh ya... heehehe) setiap hari cukup untuk membuat kita kembali ke bumi.

    ReplyDelete