Monday, July 6, 2009

Faith!!!


Last week end I just found out that son of my friend is actually having heart problem. He is only 8 months old, my Good Lord. The baby has no ‘arteria pulmonalis’ (if I am not mistaken), which is the blood transportation channel from heart to the lung. The absence of this channel interrupts overall blood circulation in his body, put back his physical and mental growth. Currently, his parents keep seeing doctors to find out the solution… can the heart be fixed? If not, can the baby survive and what are the consequences. I also heard that there might be 3 major operations need to be done if the heart is fixable.

What a curse for a young nice decent couple to learn such horrible thing happens to their first son! Even I, who only met their son once … dropped my tears when I was told about it. I couldn’t imagine how much tears they shed when they learned about the fact. I only know that the most hurtful tears in the world usually come from a mother about her child.

And you know what? My friend…the father of the special child told me that “God really trusts my family by giving him to us.” He… my friend…a tremendous father … is still calm… He comes to the office and still smiles. He works normally. And he still writes his YM status : “Everyday is a gift. Thanks!” My Good Lord!!! And here I am with a week of desperation when I couldn’t answer questions in my exam. And here I am with million of angers when subordinates of mine couldn’t do their jobs as I wish. And here I am with self-pities when I gained some weights – problems that are not even close to the problem he faced. Suddenly I feel ashamed of myself – a person who brings out small unimportant problems just to show that God’s plans on me is imperfect.

Oh, my dear friend… he is right : God considers him and his family to be strong to face the condition. And thanks God that he believes in it. He maybe cry … but he is not complaining.. He is not fighting God ... not even has a thought of blaming Him. He approaches closer to God, begs for His direction and love. What a revelation to me … that I have so much blessings in my life I should give thanks… What a precious lesson for me … that I should rather count on the blessings rather than flaws……

My dearest friend… You are really God’s dearest son. I will keep your son name in my prayers … Wishing that he will become another man who declares the Glory of God in this world. Wishing that he will live long enough to teach the world the meaning of ‘faith’ and ‘live in faith’. Wishing that he will live strong enough to also make his parents happy.

May God give you and your family strength to survive all this and become the winner above it all.

Friday, June 5, 2009

Sudah pantaskah kita untuk geram?


Saat saya mendengar tentang kasus Lapindo yang tak kunjung ada solusinya... membayangkan betapa tersiksanya ibu-ibu, bapak-bapak dan terutama anak-anak yang tinggal di pengungsian...geram rasanya hatiku terhadap pengusaha tidak bertanggung jawab yang merampas hak "hidup layak" masyarakat di sekitar Lapindo itu. Kalau Anda?


Saat saya mendengar tentang kasus penganiayaan tenaga kerja kita di negara tetangga... membayangkan betapa tak berdayanya manusia-manusia yang berjuang mencari nafkah di tempat yang jauh tersebut ... geram rasanya hatiku terhadap para majikan yang merampas hak "hidup tanpa disakiti" wanita-wanita yang sejak subuh melayani rumah tangga mereka. Kalau Anda?


Saya boleh geram... Anda boleh geram... karena kasus-kasus tersebut memang merupakan contoh perampasan hak yang paling mendasar. The thing is... apa yang bisa kita lakukan? Apakah merasa geram saja sudah cukup?


Mungkin ini memang hanya alur berpikir saya...'saya melihat kejadian... kemudian saya berkaca'. Saya memang tidak bisa melakukan apa apa untuk membantu semua korban lumpur lapindo supaya bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan nyaman. Saya juga tidak bisa menampari para majikan kurang ajar di negara tetangga karena memperlakukan pembantunya secara tidak manusiawi. Maka saya hanya bisa berbuat 'memastikan diri untuk tidak melakukan perampasan hak orang lain'.


Mari kita sama sama berkaca:

Apakah saya pernah menyerobot tempat parkir orang lain?

Apakah saya pernah 'lupa' membayar ongkos bis saat lagi ramai-ramainya?

Apakah saya pernah menyerobot antrian taxi saat hendak pulang dari mal?

Apakah saya pernah terlambat membayar gaji 'mbak' di rumah?

Apakah saya tidak mematikan atau men-silent telepon selular kita saat sedang dalam sebuah pertemuan penting supaya suaranya tidak mengganggu konsentrasi orang lain?

Apakah kita sering mencuri waktu kerja untuk hal-hal pribadi?

Apakah listrik di rumah adalah hasil colongan?

Apakah kita mengambil hasil karya orang lain dan mengaku sebagai karya pribadi?


Jika jawabannya adalah 'iya'...mari kita lupakan dulu kegeraman terhadap orang lain yang kita rasa merampas hak sesamanya... karena kita adalah salah satu dari mereka.

Wednesday, May 13, 2009

Wanita-wanita istimewa


Kemarin sore, di atas sebuah metromini, ada seseorang yang nampak seperti seorang wanita, berpakaian merah dan bersepatu merah. Namun, karena saya duduk di belakangnya, saya tak dapat melihat wajahnya. Wanita itu digoda, atau tepatnya disindir-sindir oleh beberapa laki-laki di luar metromini saat metromini tersebut sedang ‘ngetem’. Saya perhatikan lagi wanita yang duduk di depan saya tersebut… dan sepertinya saya tau mengapa mereka menggodanya.

Wanita tersebut – dia adalah seorang waria, atau kerennya disebut transvestite. Sebenarnya di Jakarta, sering sekali saya melihat para transvestite ini, sehingga seharusnya saya sudah tidak ‘tergugah’ untuk memandanginya. Bukan apa apa… kaum transvestite ini seringkali lebih kemayu daripada wanita asli… termasuk dibandingkan saya – dan itu sungguh menarik perhatian.

Sambil berusaha mengalihkan pandangan saya kepada wanita tersebut (saya lebih senang menggunakan kata ‘wanita’ untuk mendeskripsikan mereka), saya mulai merenungkan bagaimana wanita-wanita istimewa tersebut seringkali di-diskreditkan oleh masyarakat umum. Pernah suatu waktu, beberapa bulan yang lalu, saya duduk di samping seorang wanita istimewa di sebuah bus, dan kejadian yang sama terjadi. Wanita itu digoda oleh para preman dan kenek di tempat bus itu ngetem, bahkan hendak disundut rokok oleh salah seorang laki-laki norak tersebut. Kontan saja wanita itu mengamuk dan marah. Untunglah tidak terjadi apa-apa, karena saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada diri saya jika wanita dan laki laki itu berkelahi.

Apa salah wanita-wanita tersebut, sehingga mereka mendapat perlakuan kurang ajar dan tidak adil dari masyarakat? Kata para pemuka agama : mereka berdosa karena tidak menerima kodrat sebagai laki-laki. Siapa Anda… Siapa kita untuk mengatakan bahwa mereka berdosa? Memang, perubahan gender yang mereka lakukan seolah-olah menentang keputusan Penciptanya ketika membentuk jiwa mereka di dunia ini. Apa yang mereka lakukan seolah-olah menjadi pemberontakan terhadap kekuasan mutlak yang dimiliki oleh Tuhan.

Tapi, kembali lagi… siapa kita untuk mengatakan bahwa mereka berdosa? Apakah kita Tuhan? Mereka hanya manusia yang diciptakan dengan ‘free will’ dalam mencari dan mewujudkan kebahagiaan mereka. Dan kita.. sebagai sesama makhluk ciptaannya.. bukankah telah diperintahkan untuk mengasihi sesama? Lalu mengapa kita harus mendiskreditkan mereka? Mengapa kita harus menghina mereka?

Mungkin di mata kita, mereka bukan orang yang ‘normal’. Mungkin banyak di antara kita menganggap bahwa mereka aneh... atau freak. Tapi toh, kalau dipikir-pikir, wanita-wanita istimewa ini menyayangi tubuh mereka lebih daripada orang lain. Mereka menghabiskan waktu lebih untuk berdandan menyerupai seorang wanita; mereka berusaha berbicara dengan halus dan lembut ; mereka menggoyangkan pinggul saat berjalan supaya terlihat indah. Mereka berusaha begitu keras untuk mendapatkan pengakuan sebagai seorang wanita – setidaknya lebih keras dibandingkan saya yang wanita biasa namun sering ‘nyablak’ saat bicara … yang sering tidak memperdulikan penampilan …

Jadi, saya sampai pada satu kesimpulan… mereka adalah pejuang. Dan saya bertanya kembali: Siapakah kita untuk merendahkan mereka?

Wednesday, May 6, 2009

Just mumbling

Akhirnya.... masa sibuk itu lewat sudah. Pekerjaan besar di kantor sudah saya tuntaskan... bersamaan dengan break kuliah selama 2 minggu. Dua minggu terakhir hanya saya isi dengan berleha-leha dan menikmati 'me-time'. Cuti saya habiskan dengan hanya di rumah saja :menonton film (DVD) dan melumat habis buku-buku yang sudah saya persiapkan untuk dibaca. Ah, indahnya hidup....

Hal-hal sederhana seperti itu -- tak perlu menghabiskan bensin untuk bepergian ke mana mana ...tak perlu menghabiskan uang banyak untuk membeli tiket pesawat ke luar kota -- hal hal sederhana seperti itu sudah cukup bagi saya. Padahal, dulu ketika saya masih belum menikah dan masih kos, rasanya kaki ini selalu gatal untuk keluar dari tempat kos. Jika belum saatnya gerbang di kunci, rasanya enggan untuk meninggalkan kampus dan tempat kerja.

Ternyata kesempatan yang 'sulit' diperoleh memang membuat saya menjadi lebih menghargai waktu istirahat. Kesibukan selama berbulan-bulan dalam pekerjaan dan kuliah membuat saya tidak memiliki waktu cukup untuk melakukan hal lain selain belajar dan menyiapkan tugas. Betapa break selama 2 minggu ini berharga buat saya... dan betapa ini membuat saya menghargai 'waktu luang' dengan lebih baik...

Sungguh, 2 minggu ini menjadi waktu recharge buat saya... dan saya menantikan kembali waktu tersebut 4 bulan lagi!!!!!!!

Wednesday, April 15, 2009

Terlantar

Blog ku terlantar, lantaran aku sedang memasuki 'peak season' of my job.
Kangen ingin menulis, tetapi pikiran sedang tidak bisa diajak kerjasama buat nulis yang bener.
Jadinya, ya begini... cuma mampir sebentar buat menumpahkan ke-kangen-an sama blog-ku ini.
Semoga minggu ini dan minggu depan semua sudah bisa selesai... dan aku bisa kembali main-main dengan blog-ku ini.......

Monday, March 23, 2009

Sudahkah Anda .........???


Beberapa hari belakangan ini… hm.. saya rasa beberapa minggu belakangan ini, I struggled with this feeling of slapping ‘others’ (others mean more than 1…) due to their incompetence and unwillingness to do whatever they need to do to complete the tasks. Setiap hari yang saya rasakan adalah mangkel dan gondok : Why in the world I should work and deal with those kinds of person? Why can’t I get to choose whoever I want to work with?

Puncaknya adalah kemarin, saat saya akhirnya dengan sengaja mengambil cuti untuk menyelesaikan tugas kuliah yang seharusnya dibuat oleh beberapa anggota kelompok selain saya. Well, they did make it.. but the result was unexpectedly doomed. Dan saya dan anggota kelompok lainnya yakin jika hasil yang dikumpulkan adalah apa yang dibuat itu, nilai saya untuk mata kuliah itu di trimester ini bakalan jeblok. Yang lebih parah, saat saya berkomentar, sang pembuat mengatakan paper itu sudah cukup. Damn.. I had to work my a** off just to clean up other’s mess.

Masalahnya, tugas itu harus dikumpulkan kemarin malam, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk mengambil cuti dan berkutat di depan laptop untuk merombak (well… saya rasa lebih tepat jika dikatakan menyusun kembali dari nol) pekerjaan mereka mulai pukul 6 pagi sampai 5 sore sebelum akhirnya selesai.

Hari ini saya bangun dengan perasaan sangat lelah, dan hampir seperti zombie saya berangkat ke kantor. Dalam perjalanan, saya merenungkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang saya sering ajukan “Why can’t she support me? Why can’t he do a better job to make me happy? Why can’t they work faster, while I know that they have time to check their friend’s status in facebook?”

Dari hasil melamun sepanjang perjalanan itu, saya menyadari bahwa:
Di saat saya berdoa supaya Tuhan membimbing saya untuk berkarya dengan baik hari ini
Di saat saya meminta Tuhan untuk menggandeng saya untuk berjalan bersamaNya
Di saat saya menyerahkan hidup saya kepada Tuhan setiap pagi sebelum saya bekerja;
Di saat saya memohon Tuhan untuk menerangi akal budi saya dalam bekerja,

I FORGET to pray to God to give the same blessings to those who support and work with me. Saya lupa berdoa untuk mereka. Saya lupa bahwa Tuhan seringkali menolong kita lewat orang lain – lewat anggota kelompok saya, lewat tim kerja saya, lewat atasan saya, lewat siapa saja yang Dia pilih untuk menolong saya dalam hidup ini - dan saya tidak pernah mendoakan mereka supaya bekerja dengan baik. What kind of person am I?

Jawaban atas pertanyaan saya itu mencubit saya sekeras-kerasnya, membangunkan saya dari lamunan ; membangunkan saya dari tidur panjang saya. Maka pagi ini setiba di kantor, saya mendoakan orang-orang yang dipilih Tuhan untuk membantu saya dan berharap semoga itu membuat saya menjadi lebih iklas dan tak lagi menggerutu sepanjang waktu.

Dulu aku sering melihat stiker yang ditempel di mobil atau di pojok-pojok dinding kampus : “Sudahkah Anda berdoa hari ini?”. Sekarang saya harus naik tingkat : tanyakan pada saya “Sudahkah Anda berdoa untuk teammates Anda hari ini?”

Sunday, March 15, 2009

Don't take everything for granted

What is the meaning of ‘take it for granted’? Based on www.thefreedictionary.com : to believe that something is true without first thinking about it or making sure that it is true (usually + that).

This attitude applied by some of my colleagues or subordinates has been killing me. They received a report from someone else…..and just took it for granted. No checking, no analytical thinking, no curiosity, no nothing!!! They just took it and assumed that all of it was already OK.

If I told them to explore more… to look for something I thought illogical, they asked someone else and took the answer for granted. Again: no logical testing, no further crosschecking, not bother to look for evidence, NOTHING!!! They just assumed that the answer was already satisfactory.

No wonder if I just take it for granted that they are incapable. And I intend to continue thinking that way until they show me that they just don’t take everything for granted.